Menurut Kantor Berita ABNA, ulama marja taklid Ayatullah Al-Uzhma Nashir Makarim Shirazi dalam pertemuannya dengan Ketua Dewan Syura Hauzah Ilmiah Tehran Hujjatul Islam wa Muslimin Ali Akbar Rasyad dan Rektor Universitas Azad Islami Prof. Muhammad Mahdi Tehranchi, mengatakan, "Perbaikan-perbaikan menurut saya juga harus melibatkan pihak-pihak universitas, bahkan dari universitaslah perbaikan-perbaikan tersebut seharusnya dimulai. Seperti masalah hijab, hal-hal yang berkaitan dengan salat dan amalan ibadah praktis lainnya, perbaikannya harus dimulai dari pusat-pusat pendidikan dan keilmuan."
"Sebagaimana nama dari universitas yang anda pimpin, garis merah dari universitas tersebut adalah nilai-nilai Islam. Yang karenanya tuntutan dan syariat Islam harus menjadi pegangan dan pondasi dari semua kebijakan universitas yang akan diambil." Ucap Ayatullah Makarim Shirazi yang ditujukan kepada Rektor Universitas Azad Islami.
Lebih lanjut penulis kitab Tafsir al-Amtsal tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan yang benar di universitas-universitas akan memuluskan langkah proyek-proyek perbaikan. Ia berkata, "Pada lembaga pendidikan tinggi, harus lebih diutamakan kualitas dari pada kuantitas. Misalnya bahwa universitas A punya mahasiswa dan alumni dengan jumlah jutaan, itu bukan sesuatu yang penting. Yang terpenting adalah bahwa dari universitas tersebut berapa sarjana yang berhasil dicetak yang sarjana-sarjana tersebut adalah pionir-pionir perbaikan di masyarakat."
"Setiap saya mendengarkan kesuksesan, keberhasilan dan penemuan terbaru yang dihasilkan para mahasiswa, saya begitu bahagia." Tambahnya.
"Namun lebih dari itu, harus ditanamkan nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air kepada para mahasiswa agar jangan sampai mahasiswa meninggalkan negara. Sangat disayangkan jika kita mencetak sarjana-sarjana yang ahli dalam berbagai bidang, tapi yang memanfaatkannya justru negara lain." Pesan Ayatullah Makarim Shirazi
Pada bagian lain penyampainnya, ulama marja taklid membincangkan terkait perkembangan ilmu humaniora. Ia berkata, "Mengenai ilmu humaniora yang semakin berkembang pesat, pesan saya jangan pisahkan ilmu-ilmu humaniora tersebut dengan ilmu-ilmu Islam. Letakkan ilmu humaniora itu berdampingan dengan fikih. Yang untuk menjalankan ini, karenanya universitas-universitas harus bekerjasama dan jangan terpisah dengan hauzah-hauzah ilmiah. Setiap dosen di universitas dan asatid di hauzah ilmiah harus punya hubungan yang erat dan interaksi yang intens. Jika antara universitas dan hauzah ilmiah tidak saling menghubungkan diri, maka kedua lembaga pendidikan tinggi ini akan berada diambang bahaya."
"Perlu saya ingatkan, asas dari Islam adalah ilmu. Dan ilmu adalah unsur terpenting dari universitas dan hauzah ilmiah karenanya universitas dan hauzah harus bergandengan tangan melangkah ke depan. Karena pihak musuh, sampai saat ini tidak menginginkan antara hauzah dan universitas itu bersatu. Keterpisahan antara kedua lembaga pendidikan tinggi ini akan menguntungkan pihak musuh." Tambah Ayatullah Makarim Shirazi.
Menurutnya persoalan dan masalah-masalah negara akan banyak terselesaikan dengan bekerjasamanya hauzah dengan universitas. "Pihak yang bisa kita harap dan kita percaya punya kemampuan dalam mengatasi masalah-masalah negara adalah universitas dan hauzah. Saat inipun kita menginginkan agar perbaikan-perbaikan dimulai dari kedua lembaga pendidikan tinggi ini." Ungkapnya.
Pada bagian akhir penyampaiannya, Ayatullah al-Uzhma Nashir Makarim Shirazi memesankan, "Universitas-universitas harus menjauhkan diri sepenuhnya dari kebudayaan Barat. Dan pihak hauzah ilmiah jangan mengembangkan sikap kecurigaan pada ilmu-ilmu yang dikembangkan di universitas dan begitupun sebaliknya, universitas jangan fanatik dengan keilmuan yang kalian sedang kalian eksplorasi."